Pentingkah Mahasiswa Membuat Jurnal Ilmiah

Jurnal Ilmiah : Sesuatu yang dipaksakan akan menghasilkan sesuatu yang terpaksa pula, atau kau mau dipaksa untuk sesuatu yang hal yang kurang masuk akal menurutmu?

Aku tidak bermaksud untuk menghasut kalian yang akan mendapatkan gelar sarjana tahun ini untuk tidak membuat sebuah karya ilmiah online sesuai dengan keputusan Dirjen Dikti yang dikeluarkan bulan Januari 2012 kemarin. Tapi disini aku hanya ingin mengutarakan pendapatku tentang hal ini yang menurutku ada sedikit kekeliruan dan seolah kurang dipikirkan secara matang dalam membuat keputusan ini.

Diawali dari surat edaran yang dikeluarkan Dirjen Dikti pada 27 Januari 2012 mengenai syarat kelulusan mahasiswa untuk berbagai program.

Mahasiswa program sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah. Mahasiswa program magister harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional. Adapun mahasiswa program doktor harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal internasional. (sumber)

Syarat publikasi karya dalam jurnal ilmiah itu berlaku mulai Agustus 2012 mendatang.

Kutipan di atas adalah singkat dari isi postingan ini selanjutnya. Ada beberapa poin yang aku tangkap sebagai kekeliruan dan seolah kurang dipikirkan secara matang :

1.    Pembuatan karya ilmiah ini HARUS dilakukan oleh setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan studynya tahun 2012 ini, sementara surat edaran mengenai hal ini baru dikeluarkan bulan Januari 2012 kemarin. Artinya apa ? rentang waktu antara keluarnya surat keputusan dengan masa diberlakukannya surat keputusan ini sangat singkat, hanya sekitar 7 bulan. Sangat singkat!!

2.    Setiap kampus pastinya sudah memiliki mekanisme sistem untuk perkuliahan, nah dengan adanya surat keputusan yang mendadak ini, itu artinya pihak kampus harus merubah sistem yang mereka miliki dan itu bukan perkara mudah.

3.    Seharusanya surat keputusan ini dibuat untuk sosialisasi kepada kampus-kampus agar mempersiapkan para mahasiswa-nya jauh-jauh hari sebelum mendekati tingkat akhir agar para mahasiswa sudah mengetahui apa yang harus mereka lakukan untuk mendapat gelar sarjananya. Menurutku pihak kampus dapat memberitahukan kepada mahasiswa-mahasiswanya sejak masih disemester awal dan kampus dapat memberikan berbagai motifasi sedini mungkin.

4.    Pemaksaan pembuatan karya ilmiah ini terkesan hanya untuk meningkatkan kuantitas karya ilmiah Indonesia yang kalah dengan negara-negara tetangga, seharusnya yang ditingkatkan itu kualitasnya bukan kuantitasnya. Untuk apa punya banyak karya ilmiah tapi kalau tidak ada yang bermutu, penjiplakan, dan berbau kecurangan. Akan ditertawakan karya ilmiah kita oleh negara lain karena karya ilmiah kita tidak punya kualitas.

5.    Keputusan pembuatan karya ilmiah ini pun cenderung setengah hati, kenpa? Karena pemerintah cuma mampu memonitor karya ilmiah dari perguruan-perguruan tinggi negeri aja, perguruan tinggi swasta tidak akan mendapatkan sanksi jika tidak melakukan pembuatan karya ilmiah ini. Kalau begini artinya ada perbedaan derajat antara perguruan tinggi negeri dengan perguruan tinggi swasta, seolah perguruan tinggi swasta itu ada di nomor 2. Seharusnya ada persamaan derajat antara mahasiswa di perguruan tinggi swasta dengan di negeri. Gak ada yang bisa menjamin mahasiswa di perguruan tinggi negeri itu pintar.

6.    Keputusan pembuatan karya ilmiah ini menurutku akan semakin memicu tindak kecurangan yang akan dimanfaatkan oleh berbagai oknum. Kita tak usah heran, kita semua tau kalau ada banyak jasa pembuatan skripsiSkripsi Itu Tergantung Siapa Yang Membuat. Read more ... » disekitar kita, nah ini juga akan dimanfaatkan untuk pembuatan karya ilmiah ini. Mungkin sih gak masalah, toh yang dikejar pemerintah adalah kuantitas bukan kualitas.

Jurnal ilmiah

Tanggapan Mereka

Mungkin cuma 6 poin itu aja yang bisa aku utarakan, sekali lagi aku gak bermaksud untuk menentang keputusan. Di sini aku cuma ingin mengutarakan dan menyampaikan pendapat aku mengenai keputusan yang sudah dibuat oleh pemerintah.

Maaf kalau apa yang aku utarakan di atas tidak masuk akal, maklum namanya juga mahasiswa IT yang jauh dari hal-hal beginian. Anak IT kan bisanya cuma menatap layar komputer dan berkutat dengan bahasa-bahasa aneh (baca bahasa pemrograman).