Adakah Keadilan Pada Ujian Nasional?

Tak ada hukum yang mengatakan bahwa si kaya memiliki kemampuan dan kepintaran di atas si miskin apalagi saat ujian nasional. Di dalam belajar, siapa yang sungguh-sungguh maka dialah yang akan mendapat.

Setiap tahun negara ini menyelenggarakan Ujian Nasional bagi seluruh siswa tingkat akhir disetiap jenjang pendidikanGathering Gerakan Indonesia Berkibar @IDBerkibar di Medan. Read more ... » mulai SD, SLTP, SMA. Ujian Nasional adalah harga mati untuk menentukan si siswa layak atau tidak untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap tahunnya standard kelulusan yang dikeluarkan oleh pemerintah pun selalu meningkat. Apakah standard nilai kelulusan itu bisa dijadikan indikator kepintaran para siswa-siswa di Negeri ini? Apakah semakin tinggi standard nilai maka semakin tinggi pula kualitas pendidikan di Negara ini?

Aku gak akan membahas kemampuan individu para siswa. Iyah, tak ada yang bisa menjamin si kaya dengan makanan yang penuh gizi itu pintar, atau si miskin tidak bisa menjadi pintar karena makanan yang dikonsumsinya hanya seadanya. Who knows? Apa yang dimakan tak menjamin untuk menjadi pintar. Lantas seberapa besar pengaruh institusi pendidikanPentingkah Ospek di Dunia Pendidikan?. Read more ... » terhadap kemampuan para siswa? Harus diakui kalau kualitas pendidikan itu bisa dinilai dari institusinya. Sekolah yang bagus dengan fasilitas lengkap dan guru didik yang berkualitas akan berdampak besar terhadap pengembangan siswa di dalamnya, begitu juga sebaliknya.

Oke, kalau udah demikian bisa kuambil kesimpulan bahwa sekolah-sekolah dengan fasilitas lengkap dan kualitas guru yang bagus itu akan lebih banyak menghasilkan siswa-siswa berprestasi dan pintar. Dimana bisa kita temui sekolah-sekolah seperti ini ? Kota, iyah kota besar lah tempat yang banyak menyediakan sekolah-sekolah bagus itu, bahkan sudah berstandard internasional. Jelas untuk pendidikan yang bagus ini pasti mahal. Bagaimana dengan kondisi pendidikan di desa ?

ujian nasional

sekolah kami mau rubuh, pak

Yaah, bukan rahasia lagi kalau pendidikan di desa sudah pasti jauh berbeda dengan di kota. Kita sudah cukup sering lah melihat berita-berita di televisi tentang kondisi sekolah-sekolah di pedesaan yang sangat memprihatinkan, bahkan bangunannya sudah tak layak huni karena sangat rawan untuk rubuh. Bukan cuma itu, perbedaan lain juga bisa kita lihat dari lingkungan luar sekolah. Kalau anak sekolahan di kota tak perlu mempertaruhkan nyawa-nya untuk bisa sampai ke sekolah mereka, sedangkan yang di desa harus menyebrangi jembatan yang udah gak layak pakai, arus deras sungai yang suatu saat bisa menyeret mereka, jalan kaki berkilo-kilo karena gak ada kendaraan atau akses jalan yang memang gak bisa dilalui dengan kendaraan. Semua itu cuma untuk bisa sampai ke lokasi sekolah mereka.

ujian nasional

mau sekolah aja kami harus taruhan nyawa

Dari segi infratruktur sudah sangat berbeda jauh, bagaimana dari segi tenaga pengajar ? ini juga menjadi satu persoalan yang gak bisa dipisahkan. Guru-guru di desa pasti sangat berbeda dengan di kota. Dari segi pendapatan, fasilitas udah pasti beda jauh. Bahkan seorang guru di desa bisa mengajar untuk banyak kelas karena untuk menutupi kekurangan tenaga pengajar.

Ini hanya opiniku, aku gak bisa menjamin kalau anak-anak sekolah di perkotaan akan lulus Ujian Nasional seluruhnya, atau malah anak-anak sekolah di pedesaan dengan fasilitas seminim itu bisa lulus Ujian Nasional dengan baik. Kalau kita melihat kembali realita dunia pendidikan di Negeri ini dengan segala perbedaan yang mencolok antara siswa kota dan siswa desa, apakah layak Ujian Nasional itu dilaksanakan dengan standard nilai yang disamaratakan dari Sabang sampai Merauke?

Sumber foto : disini dan disini