Siapakah Korban Perkembangan Teknologi dan Sosial Media Itu?

Kehadiran sosial mediaSemua Orang Berhak Berkicau. Read more ... » memang sangat membantu dalam banyak hal, tapi apakah kamu sadar sebenarnya kamu sudah menjadi korban kehadirannya.

Sudah lumayan sering aku membahas social media selama ngeblog, apalagi blog ini secara spesifik memiliki tagline Opini Masyarakat Sosial “Media” jadi ya wajar aja kalau aku banyak membahas tentang Sosial “Media”.

Lanjut ke inti tulisan, kali ini cukup sederhana dan sekedar menghimbau sekaligus mengingatkan diri sendiri juga.

Sosial media yang kita kenal saat ini, mulai pada awalnya dimanfaatkan sekedar untuk bersosialisasi sesama pengguna, berinteraksi dengan teman atau “teman” dan sampai pada 2 tahun terakhir sosial media banyak dimanfaatkan sebagai media bisnis, jualan, layanan customer service dan banyak lagi.

Senang rasanya melihat orang-orang yang bisa memanfaatkan social media dengan baik dan mendatangkan profit, mereka yang berhasil dalam hal ini adalah orang-orang yang beruntung akan berkembangnya sebuah teknologiSosial Media Termasuk Penyebab Insomnia. Read more ... ». Kalian yang beruntung harus berterima kasih pada para pengembang dalam bidang teknologi. Ucapkan terima kasih untuk nama-nama besar di balik hadirnya social media seperti Mark Zuckerberg, Jack Dorsey, dll.

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang hanya menjadi “korban” perkembangan teknologi? Korban dalam hal ini bukan orang-orang yang teraniaya ya, tapi “korban” disini adalah orang-orang yang tidak siap dengan kehadiran sebuah teknologi. Siapa aja mereka? Banyak contoh yang bisa diambil, tapi disini aku cuma akan mengambil contoh kecil siapa-siapa aja mereka.

sosial media

Masih terlalu dini untuk bermain facebook (credit : Hajingfai)

Yang pertama, mereka yang terlalu maniak akan gadget yang dimiliki. Sebagai contoh, sejak kehadiran gadget yang kuberi nama gadget “minta pinmu donk” (cuma istilah) semakin marak digunakan khususnya pengguna dari Indonesia, semakin banyak orang yang bertingkah seperti anak autis. Tak pernah lepas dari gadget-nya yang selalu berbunyi “ting-nung” setiap kali. Dan yang paling bahaya adalah ketika setiap kali bertemu dengan orang baru yang pertama diminta adalah “minta pinmu donk”, padahal kita tau gak semua orang pakai gadget serupa.

Yang kedua, mereka yang menjadi addict terhadap social media sebut saja facebook atau twitter. Coba kalian perhatikan 1 dari sekian banyak teman kalian di facebook atau 1 dari sekian banyak orang yang kalian follow di twitter pasti ada yang gak pernah offline dari akunnya. Memang semua orang berhak untuk berkicau tapi seharusnya ada porsi waktu yang dialokasikan untuk berkicau. Pertanyaannya adalah apakah orang seperti itu gak punya pekerjaan alias pengangguran atau mereka gak sekolah atau kuliah.

Mungkin mereka berkerja disebuah perusahaan, sangat merugi sekali perusahaannya memperkerjakan karyawan yang kerjanya hanya facebookan atau twitteran atau mereka adalah para anak sekolahan/mahasiswa, sangat merugi sekali orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya tapi anaknya gak pernah belajar CUMA karena twitter.

Hendaknya kita bisa menempatkan diri dan waktu antara untuk bersosial media dan untuk kegiatan rutin sehari-hari. Jangan sampai jadi BUDAK SOSIAL MEDIA.