Papan Iklan Polusi Media di Era Digital Media

Beriklan tidak ada salahnya menggunakan papan iklan atau papan reklame, tapi apakah itu menjadi lebih baik di masa saat ini di tengah era digital?

Reklame atau biasa kita sebut papan iklan memang bukan sebuah barang baru di industri advertising, karena sejarah mencatat awal munculnya teknologi cetak atau mesin cetak sejak tahun 1438 oleh Johannes Gutenberg yang membuat media iklan baru pada saat itu dengan menggunakan kertas (Wikepedia). Perkembangan media iklan dalam bentuk centak, pun terus mengalami kemajuan hingga saat ini. Mulai dari yang berwarna, tiga dimensi, bahkan teknologi LED.

Penggunaan papan iklan memang sangat membantu dalam memberikan informasi, entah itu informasi produk, informasi tempat usaha atau jasa, dan bahkan informasi sebuah acara. Sangat membantu memang keberadaan papan iklan ini, tapi jika sudah menjadi sebuah “sampah mata” lantas bagaimana?

Pemandangan sebuah kota yang tak layak sebenarnya disebut sebuah pemandangan karena keberadaan papan iklan ini yang kurang enak dipandang mata. Pemasangan papan reklame yang tumpang tindih, awut awutan yang jauh dari kata teratur justru membuat pemandangan sebuah kota menjadi tak layak untuk dipandang. Lantas, siapa yang harus disalahkan dengan keberadaan papan iklan yang awut awutan ini? Kita gak usah menyalahkan siapapun, karena bagaimana pun, papan iklan/reklame ini punya banyak jasa bagi banyak pihak.

Di satu sisi, papan iklan berguna bagi dunia usaha untuk mengenalkan sebuah usaha, disisi lain juga berguna bagi pendapatan pemerintah kota melalui pajak reklame, dan fungsi terbesarnya adalah bagi masyarakat yang terbantu dengan adanya informasi di papan iklan.

Benda Mati Ini Tak Bersalah, Jangan Disalahkan

Papan Iklan Adalah Polusi Media

Di berbagai sudut kota bukan hal yang lazim kita jumpai papan reklame. Keberadaan mereka hampir ada disetiap sudut jalan dengan berbagai ukuran dan tulisan tulisan yang menarik untuk “dinikmati”. Bagaimana jika keberadaannya sudah seperti ini? Apa masih menarik untuk dinikmati?

papan iklan

Polusi Media (Source : Posmetro)

Dalam sebuah tabloid otomotif yang pernah aku baca disekitar tahun 2006, ada sebuah artikel yang mengulas tentang bahaya papan reklame bagi pengendara. Ehmm.. Kenapa papan reklame ini bisa sampai berbahaya? Karena faktanya, otak manusia membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna arti dari sebuah reklame yang dilihat di jalan. Hal ini berbahaya karena akan mengganggu konsentrasi pengendara yang teralihkan karena otak membutuhkan waktu untuk mencerna sebuah papan reklame. Belum lagi arah pandangan pengendara yang teralihkan karena melihat papan reklame.

Bukan hanya itu, keberadaan papan reklame yang berantakan ini sangat merusak pemandangan karena gak ada enaknya lagi untuk dilihat dan sangat mengotori keindahan kota.

Kalau tadi aku bilang tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini, dibagian ini aku minta izin untuk menyalahkan pemerintah yang seharusnya punya wewenang untuk mengatur tata letak papan reklame. Pemerintah kota pasti sudah punya regulasinya, tapi kemana?

Papan Iklan Menjadi Polusi Media di Era Digital Media

Di era dunia digital seperti sekarang ini, seberapa besarkah peran papan reklame? Seberapa banyak orang yang masih memperdulikan keberadaan papan reklame? Karena pada nyatanya, teknologi digital sudah menjadi andalan untuk mencari informasi sebuah produk atau sebuah toko.

Aku secara pribadi, sekali lagi aku ulangi AKU PRIBADI jika sedang berkendara sendiri entah kenapa enggak terlalu tertarik untuk melihat papan reklame karena dengan alasan mengganggu konsentrasi. Kalau aku enggak sedang mengemudi (duduk di samping atau jika dibonceng naik motor atau naik angkutan umum) aku lebih tertarik untuk mengalihkan mata ke arah gadget karena lebih banyak yang bisa dilihat. Untuk mencari informasi sebuah produk atau sebuah toko, rasanya akan dengan mudah kok dicari melalui internetSosial Media Sudah "Membunuh" Komunikasi. Read more ... ».

papan iklan

Social Media for You

Bahkan melalui sosial mediaSosial Media Sudah "Membunuh" Komunikasi. Read more ... », akan dengan mudah juga mendapatkan informasi berbagai produk. Walaupun sosial media itu membunuh komunikasi tapi jika digunakan untuk mencari informasi, gak ada salahnya.

Keberadaan sosial media saat ini sudah sangat gampang untuk dimanfaatkan sebagai media promosi, bahkan untuk sebuah UKM akan sangat terbantu jika berpromosi menggunakan sosial media dan juga memanfaatkan website. Tidak merusak pemandangan mata, dan juga melaui digital biayanya lebih murah (perhitungan khusus).

Kalau kalian, lebih cenderung mencari informasi produk melalui papan iklan / papan reklame atau mencari melalui digital?